Sabtu, 30 April 2016

Desa Wisata

DESA WISATA


A.    Pengertian
Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.

B.     Komponen Utama Desa Wisata
Terdapat dua konsep utama dalam komponen desa wisata :
1.      Akomodasi            : sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.
2.      Atraksi                   : seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti : kursus tari, bahasa dll yang spesifik.
Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Devolpment Approach, hal.166 memberikan definisi : wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalan atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat.

C.     Pendekatan Pengembangan Desa Wisata
Pengembangan dari desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar dari penelitian dan studi-studi dari UNDP(United Nations Development Programme) / WTO(World Trade Organization) dan beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa wisata.

D.    Pendekatan Pasar Untuk Pengembangan Desa Wisata
Interaksi tidak langsung
·         Dengan cara desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi ,misalnya : penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos.
Interaksi setengah langsung
·         One day trip yang dilakukan oleh wisatawan, meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.
Interaksi langsung
·         Wisatawan tinggal dalam akomodasi yang dimiliki desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan : daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lainnya adalah penggabungan dari model pertama dan kedua.
Kriteria Desa Wisata
1.      Atraksi wisata : alam, budaya, hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa.
2.      Jarak tempuh : jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan jarak tempuh dari ibukota provinsi dan jarak dari ibukota kabupaten.
3.      Besaran desa : jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik, dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan saya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
4.      Sistem kepercayaan dan kemasyarakatan : aspek penting tentang aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adlah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
5.      Ketersediaan infrastruktur : fasilitas dan pelayanan transportasi, listrik, air bersih, drainase, telepon, dsb.

E.     Pendekatan Fisik Pengembangan Desa Wisata
Memiliki standar-standar khusus dalam mengdan mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi :
·         Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki budaya dan arsitektr yang tinggi dan mengubah fungsi rumah fungsi rumah tingal menjadi sebuah museum desa untuk menghasilkan biaya perawatan dari rumah tersebut.
·         Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata.
·         Mengembangkan bentk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa tersebut yang di operasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri skala kecil.

F.      Prinsip Dasar dari Pengembangan Desa Wisata
·           Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan desa.
·           Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan du kerjakan oleh oenduduj desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki
·           Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu “sifat” budaya tradisional yang lekat pada suatu desa atau “sifat” atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.

G.    Jenis Wisatawan Pengunjung Desa Wisata
·           Wisatawan Domestik
®    Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat desa tersebut.
Motivasi kunjungan : mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan.
®    Wisatawan dari luar daerah (luar propinsi atau luar kota), yang transit atau lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
®    Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pedesaan penghasil kerajinan secara pribadi.
·           Wisatawan Manca Negara
®  Wisawatan yang berpetualang dan berminat khusu pada kehidupan dan kebudayaan di pedesaan. Umumnya wisatawan ini tidak ingin bertemu dengan wisatawan lainnya dan berusaha mengunjungi kampung dimana tidak begitu banyak wisatawan asing.
®  Wisatawan yang pergi dalam grup (di dalam suatu biro perjalanan wisata).
®  Wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi dan hidup di dalam kampung dengan motivasi merasakan kehidupan di lua komunitas yang biasa dihadapinya.

H.    Tipe Desa Wisata
·           Tipe Terstruktur (enclave)
®    Lahan terbatas yang di lengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkan sehingga mampu menembus pasar internaional.
®    Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negativ yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
®    Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang intergratif dan terkoordinasi, sehngga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama utuk “menangkap” servis-servis dan hotel-hotel berbintang lima.

·           Tipe Terbuka (spontaneus)

®      Tipe ini di tandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan stuktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatwan dapat langsung dinikmati oleh peduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkempungan wisata jenis ini adalah Prawirotaman, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar